Tampilkan postingan dengan label Religi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Religi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 April 2017

Ayat-Ayat Tentang Riba

Assalamu'alaikum..

Alladzina yaa kuluunarribaa laa yaquumuuna illaa kamaa yaquumulladzii yatakhobbathuhusyayaithoonu minalmassi, dzaalika bi annahum qooluu innamaal bai'u mitslurrobaa wa akhallallohul bai'a wa kharromarribaa, wamamjaa ahu mau'idhotummirrobbihii faantahaa falahu maa salafa, wa amruhuu ilalloh, wa man'aada faulaaika asykhaabunnaar humfihaa khooliduun (Al Baqarah: 275).
"Orang-orang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena merekas berkata  bahwa jual-beli sama dengan riba. Barangsiapa mendapati peringatan dari Tuhannya, lalu dia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Alloh. Barangsiapa mengulangi, maka mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya." (Al Baqarah: 275).

Wamkhaqullohurribaa wa yurbishshodaqooh, wallohulaa yukhibbu kullu kaffarin atsiim (Al Baqarah 276).
"Alloh memusnahkan riba dan menyuburkan sodaqoh. Alloh tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam  kekafiran dan bergelimang dosa." (Al Baqarah 276).

Yaa ayyuhaalladziina aamanuttaqulloha wa dzaruumaa baqiya minarribaa inkuntum mu'miniin (Al Baqarah 278)
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Alloh dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang yang beriman." Al Baqarah 278).

Faillam taf'aluu faadzunubi kharbimminallohi wa rosuulihi, wa intubtum falakum ru uusu amwaalikum,  laa tadhlimuuna wa laatudhlamuun (Al Baqarah 279).
"Jika kamu tidak melaksanakannya, maka umumkanlah perang dari Alloh dan rosul-Nya. Tetapi jika kamu bertobat, maka kamu berhak atas pokok hartamu. Kamu tidak berbuat dzalim (merugikan) dan tidak didzalimi (dirugikan)." Al Baqarah 279.

Wamaa aataitummirribaalliyarbu wa fii amwaalinnaasi falaa yarbuu'indalloh, wa maa aataitummin zakaatin turiiduuna wajhallohi faulaaika humulmudh'ifuun (Ar-Rum: 39).
"Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar harta manusia bertambah, maka tidak bertambah dalam pandangan Alloh. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk memperoleh keridhooan Alloh, maka itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya)." (Ar-Rum: 39).

Wa akhdzi himurribaawa qodnuhuu'anhu wa aklihim amwaalannasi bil baathili, wa a'tadnaa lilkaafiriina minhum'adzaabaan aliim. Laakinirroo sikhuuna fil'ilmi minhum wal mu'minuuna yu'minuuna bimaa unzila ilaika wa maa unzila minqoblika wal muqiimiinshsholaata wal muutuunazzakaata wal mu'minuuna biillahi wal yaumil aakhir, ilaaika sanuutiihim ajroon'adhiim (An-Nisa: 161-162).
"dan karena mereka menjalankan riba, padahal sungguh mereka telah dilarang darinya, dan karena mereka memakan harta orang dengan cara tidak sah (bathil). Dan Kami sediakan untuk orang-orang kafir di antara mereka azab yang pedih. Tetapi orang-orang yang ilmunya mendalam di antara mereka, dan orang-orang yang beriman, mereka beriman kepada (Al-Qur'an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad), dan kepada (kitab-kitab) yang diturunkan sebelummu, begitu pula mereka yang melaksanakan sholat dan menunaikan zakat dan beriman kepada Alloh dan hari kemudian. Kepada mereka akan Kami berikan pahala yang besar." (An-Nisa: 161-162).

Yaa ayyuhaalladziina aamanuu laa taa kuluurribaa adh'aafammudhoo'afatawwattaqulloha la'allakum taflikhuun (Ali Imron: 130).
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kepada Alloh agar kamu beruntung." (Ali Imron: 130).

Semoga beberapa ayat di atas dapat menjelaskan tentang RIBA. Banyak orang yang menantang, mana dalilnya, mana sumbernya, bagaimana bunyinya saat diberikan nasehat untuk menjauhi RIBA. Nah, semoga ayat-ayat di atas sedikit banyak dapat menjadi sumber bagi saudara-saudara yang sedang mencari hidayah.

Mohon maaf jika banyak saudara saya yang merasa sakit hati dengan postingan-postingan saya. Jika memang berkenan, silahkan bacalah. Jika tidak berkenan, paling tidak saya sudah melaksanakan kewajiban saya sebagai sesama muslim. Dan jika berghibah, Alhamdulillah, berkuranglah dosa-dosa saya.

Wassalamu'alaikum..

Daging Yang Diharamkan Masuk Surga

Assalamu'alaikum..

 “Tidak ada daging yang tumbuh dari as-suht, kecuali neraka lebih layak baginya.” (HR. Turmudzi 614 dan dishahihkan al-Albani).

 Menurut pemahaman saya yang masih kurang ilmunya, adalah setiap daging manusia yang tumbuh dari hasil yang haram, dari makanan yang haram, maka akan haram pula daging tersebut untuk masuk ke surga.

BAYANGKAN, seorang anak, usia bayi atau balita, yang belum tahu tentang dosa, yang belum bisa mencari makan sendiri, diharamkan baginya untuk masuk ke surga, padahal dia tidak tahu apa-apa. BAYANGKAN, dia harus merasakan jilatan api yang tidak pernah dia sulut sama sekali. Bukankah anak adalah sesuatu yang sangat sangat berharga, bahkan bagi saya, saya akan mempertaruhkan nyawa saya untuk kesehatannya di dunia, apalagi di akherat. Banyak sauadara-sauadari kita yang belum memiliki anak, mereka memohon hingga mereka rela menukarkan apapun yang mereka miliki demi seorang anak. Lalu mengapa kita yang telah dikaruniai seorang anak, tega menjerumuskan anak kita, darah daging kita sendiri menuju api neraka? Bahkan saya sendiri, memiliki seorang saudara yang belum dikaruniai seorang anak, beliau kaya, mempunyai jabatan yang tinggi di kantornya, pernah berkata, "saya rela menukar semua harta dan jabatan saya demi mempunyai seorang anak yang darah daging saya sendiri.". Sebegitu besarnya nilai seorang anak untuk ditukar dengan sesuap nasi yang berasal dari sesuatu yang haram.

Kemudian..

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu.” (Al Baqarah: 278-279).

Saya sudah beberapa kali membaca ayat tersebut, namun tidak tahu artinya. Setelah saya mendengar ayat tersebut beserta konsekuensinya, kemudian saya membaca terjemahannya di Al-Qur'an, saya MERINDING. Saya mencoba belajar tentang konsekuensi dari dosa-dosa yang ada, TIDAK ADA SATUPUN dosa dimana Alloh SWT dan Rosulnya MENYATAKAN PERANG secara LANGSUNG.
BAYANGKAN, jika seorang manusia menyatakan perang dengan suatu negara. Apa yang ada di benak kita? "Ah, itu pasti orang gila". Apalagi ini, yang kita nyatakan perang adalah Dzat yang menciptakan kita.
Masya Alloh, jangankan menyatakan perang dengan Alloh, melihat seorang ibu bermuka marah saja, kita pasti sudah takut setengah mati.

Mungkin banyak sahabat dan saudara saya yang mencibir tulisan saya, menganggap saya sok suci, tobat sementara dll bahkan marah terhadap saya. Tapi tidak mengapa, akan saya selalu doakan, semoga kalian secepatnya menemukan hidayah.
(silahkan lihat riwayat pekerjaan saya di facebook dengan akun Eko Waluyo Budi Utomo)

Semoga tulisan yang sedikit ini bermanfaat.

Wassalamu'alaikum..

Selasa, 04 April 2017

HIDAYAH DAN HIJRAH


Apa si hidayah? Apa si Hijrah?

"Jika Aku sesat Maka Sesungguhnya Aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika Aku mendapat petunjuk Maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya dia Maha mendengar lagi Maha Dekat" (Saba: 50)

Jadi aneh rasanya jika ada seseorang yang menuduh orang lain memurtadkan orang lain karena orang tersebut mendapat hidayah. Hidayah atau yang sering orang sebut dengan pencerahan, bukan hanya sekedar tergerak hatinya untuk kembali kepada jalan Tuhan. Bayi menangis adalah hidayah (hidayah tabi'at), seseorang bisa melihat adalah hidayah (hidayah indera), seseorang bisa membedakan mana baik mana buruk adalah hidayah (hidayah akal) dan masih banyak lagi. Sedangkan puncak dari hidayah adalah agama (hidayah ad-dien).

Hidayah yang sering kali dimaksud orang adalah hidayah ma'unah dan taufik. Ada seseorang pecandu alkohol atau narkoba, kemudian berhenti karena SADAR akan bahayanya, itu adalah salah satu hidayah ma'unah dan taufik. Tuhan secara tidak langsung menyadarkan dirinya jika alkohol dan narkoba itu pada akhirnya akan membunuh dirinya.

Begitu pula dengan pindahnya keyakinan seseorang. Seseorang yang memutuskan untuk berpindah keyakinan, PASTIlah melalui jalan panjang. Bukan hanya mendengar ceramah si A, si B, lantas memutuskan untuk berpindah keyakinan. Untuk merubah telur mentah menjadi telur matang saja, membutuhkan waktu 10-15 menit, apalagi yang dirubah adalah KEYAKINAN. Jadi STOP membuat statement jika seseorang merubah keyakinannya secepat membuat mie rebus.

“Barang siapa yang berhijrah di jalan Allah niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nisa: 100).
Mungkin definisi hijrah yang paling sederhana adalah PINDAH. Akan tetapi, hijrah memiliki makna yang jauh lebih luas, bukan lagi hanya hijrah dari Mekkah menuju Madinah seperti pada jaman Rosululloh.
Bagi umat muslim, banyak sekali yang tidak menyadari jika mereka sebenarnya sedang berhijrah, contohnya:
1. Seseorang yang semula hanya menjalankan sholat maghrib, kemudian bertambah menjalankan sholat dhuhur, ashar, isya dan shubuh, itu salah satu bentuk hijrah.
2. Seseorang yang semula menjalankan sholat dirumah, kemudian berubah untuk menjalankan sholat berjamaah di masjid atau mushola, itu adalah hijrah.
3. Seseorang yang semula tidak pernah bersodaqoh, kemudian mulai bersodaqoh sebulan sekali, itu adalah hijrah.
4. Seseorang yang semula tidak mengenakan hijab, kemudian berhijab, itu adalah hijrah dan masih banyak lagi contohnya.
Esensinya, hiijrah pada jaman sekarang adalah PERUBAHAN menjadi LEBIH BAIK.

Lalu apa hubungan antara HIDAYAH dan HIJRAH?
HIDAYAH → HIJRAH
Seseorang tidak akan BERHIJRAH sebelum mendapatkan atau lebih tepatnya menemukan HIDAYAH.

Kamis, 30 Maret 2017

- kaPITAlis

Gaji Rp. 3.500.000,- dengan target 1 bulan 500 juta dengan bunga 0,7%/ bulan tenor 3 tahun (36 bulan).

Mari kita hitung besarnya bunga..
0,7/100 x 500.000.000 = Rp. 3.500.000,-.

Dengan asumsi setiap bulan target, maka perhitungan akumulasi pertambahan profit bunga sebagai berikut:
Bulan I, menyumbang bunga Rp. 3.500.000,-
Bulan II, menyumbang bunga Rp. 7.000.000,-
Bulan III, menyumbang bunga Rp. 10.500.000,-
Bulan IV, menyumbang bunga Rp. 14.000.000,-
Bulan V, menyumbang bunga Rp. 17.500.000,-
Bulan VI, menyumbang bunga Rp. 21.000.000,-
Bulan VII, menyumbang bunga Rp. 24.500.000,-
Bulan VIII, menyumbang bunga Rp. 28.000.000,-
Bulan IX, menyumbang bunga Rp. 31.500.000,-
Bulan X, menyumbang bunga Rp. 35.000.000,-
Bulan XI, menyumbang bunga Rp. 38.500.000,-
Bulan XII, menyumbang bunga Rp. 42.000.000,- dst.

Mari kita jumlahkan dan bandingkan antara gaji dan profit perusahaan, dengan asumsi seorang karyawan bank mendapatkan gaji dari hasil pembayaran bunga nasabahnya.
Bulan I, Gaji Rp. 3.500.000, Perusahaan Rp. 0
Bulan II, Gaji Rp. 3.500.000, Perusahaan Rp. 3.500.000
Bulan III, Gaji Rp. 3.500.000, Perusahaan Rp. 7.000.000
Bulan IV, Gaji Rp. 3.500.000, Perusahaan Rp. 10.500.000
Bulan V, Gaji Rp. 3.500.000, Perusahaan Rp. 14.000.000
Bulan VI, Gaji Rp. 3.500.000, Perusahaan Rp. 17.500.000
Bulan VII, Gaji Rp. 3.500.000, Perusahaan Rp. 21.000.000
Bulan VIII, Gaji Rp. 3.500.000, Perusahaan Rp. 24.500.000
Bulan IX, Gaji Rp. 3.500.000, Perusahaan Rp. 28.000.000
Bulan X, Gaji Rp. 3.500.000, Perusahaan Rp. 31.500.000
Bulan XI, Gaji Rp. 3.500.000, Perusahaan Rp. 35.000.000
Bulan XII, Gaji Rp. 3.500.000, Perusahaan Rp. 38.500.000 dst.

Perbandingannya?
Karyawan Rp. 42.000.000,-
Perusahaan Rp. 231.000.000,-

Ini baru perhitungan 1 tahun, bayangkan jika sampai 5 tahun atau 10 tahun, kira-kira bagaimana?

Dengan realita di lapangan?
1. Berangkat jam 7 pagi, pulang tidak terhingga atau tidak pulang.
2. Jika target, si bos memberikan tepuk tangan. Tidak target, "Gue tendang loe dari perusahaan gue!" (profit kredit tetap berjalan bagi perusahaan & perusahaan tidak perlu mengeluarkan biaya gaji karyawan).
3. Sakit? Si Bos mana tahu, kan karyawan ribuan? Yang mengurus orang tua, istri/suami & anak, orang-orang yang kita temui beberapa jam setiap hari.
4. Ketemu keluarga? Senin-Jumat jam bertemu keluarga dari pukul 04.00 s.d 07.00 dan pukul 20.00 s.d 21.00. (belum target, sabtu WAJIB MASUK), kata si bos. Jika tidak mau? "Keluar dari barisan saya!"
5. Anak tidak pernah terpantau, nakal, tersangkut NARKOBA, lalu yang disalahkan guru sekolahnya. "Gimana si gurunya, ga becus urus anak gue. Kan gue udah bayar mahal!". (mintanya anaknya pinter tapi tidak pernah "nyinaoni", mintanya anaknya pinter sholat tapi tidak pernah "nyontoni", mintanya anaknya sehat tapi anaknya makan apa tidak tahu. Yang paling sedih, jika si anak dititipkan ke Mbahnya, yang disalahkan mbahnya. "Gimana si pak, bu, kan Nanda sudah saya titipkan?" (emangnya bapak ibu kamu panti asuhan?). Pikirrrrrrrrrrrrrrrrr!
6. Ada nasabah macet? Si bos, "Gue pusing nih, gue ga mau tau gimana caranya ni nasabah angsuran masuk, loe pikir tu duit punya nenek moyang loe? Itu duit gue tau!". Jalan terakhir, si karyawan menutupi angsuran nasabahnya. Kalo tidak mau? "Keluar dari barisan saya!", kata si bos.
7. Tanggal 1 s.d 20, dicambuk agar target kredit lolos. Tanggal 21 s.d 31? Dicambuk agar nasabah bisa mengangsur semuanya.
8. Silahkan tambahkan sendiri yang merasa punya pengalaman.

Selamat malam, selamat beristirahat..
(ojo dipikir jero-jero, mbok mumet ndasmu tapi karo cengar-cengir)

Kamis, 23 Maret 2017

Kubangan Lumpur "RIBA"

Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Saya mengambil judul di atas terkait dengan keputusan saya untuk keluar dari dunia perbankan. Pastilah banyak sahabat-sahabat saya yang menghujat ataupun memperbincangkan saya di belakang, namun semua itu tidaklah masalah. Kali ini saya akan banyak bercerita tentang kisah hidup saya bagaimana dari awal saya terjun hingga keluar dari kubangan lumpur riba. Saya lulus sarjana tahun 2012 dengan predikat sarjana pendidikan. Besar harapan orang tua saya untuk dapat melihat saya mengabdi bagi dunia pendidikan, begitu halnya dengan saya. Namun kilau dunia dan kurangnya ketidaksabaran merubah semua pandangan dan pemikiran saya. Dengan penghasilan 400 ribu per bulan, mendorong saya untuk mencari pekerjaan lain yang lebih menjanjikan. Ya, apalagi yang akan dilirik selain dunia perbankan. Kerja bergaji tinggi, memakai kemeja, berdasi, kantor ber-AC dll, itu yang ada dalam angan-angan saya. Dengan dalih dapat menyongsong masa depan yang lebih baik jika bekerja dalam dunia perbankan.
Tahun 2014 saya memastikan diri masuk ke dalam dunia perbankan setelah sebelumnya berwiraswasta namun gagal. Perusahaan pertama yang saya masuki adalah bank swasta berwarna "orange". Awal bekerja betapa terkejutnya, ternyata berangkat jam 7 pagi dan pulang sampai malam, namun semua itu tetap saya jalani. Setahun di bank "orange", saya pindah ke bank yang berlabel bank milik negara dan berlabel SYARIAH. Di perusahaan ini saya belajar banyak hal, mulai tentang kebijakan-kebijakan perbankan, hukum-hukum syariah perbankan dll dan tentunya dengan gaji yang lebih tinggi. Namun di perusahaan ini, saya lebih tercengang. Tekanan, target, politik-politik di dalam kantor, subyektivitas pimpinan sangatlah besar. Dengan besarnya tekanan, target dan politik di kantor, saya melakukan kesalahan. Saya selalu memegang prinsip untuk tidak menjadi seorang penjilat, lalu bagaimana caranya agar saya lolos dari target? Saya menghalalkan segala cara. Ya, saya menghalalkan segala cara agar semua tercapai. Tahun 2016, saya mendapatkan tawaran dari bank "merah" berlabel swasta. Saya segera memutuskan mengambil tawaran tersebut tentunya karena tawaran gaji yang lebih besar. Sebelum pindah ke perusahaan ini, saya di cambuk. Ibu mertua saya harus menjalani opname selama satu bulan di rumah sakit. 3 hari pulang, giliran saya yang harus diopname selama seminggu. Akhirnya saya pindah ke perusahaan yang baru dengan posisi yang saya pikir lebih nyaman dan gaji yang tinggi. Ternyata tidak. Sungguh luar biasa tekanan di perusahaan ini. Saya di hadapkan pada salah satu orang nasabah yang sudah tidak mampu untuk menyelesaikan kredit. Si nasabah memiliki itikad baik untuk menjual aset, namun meminta waktu untuk proses penjualannya. Disinilah kelicikan kami sebagai seorang banker. Sekali saya membohongi si nasabah agar dapat memasukan angsuran. Karena tidak memiliki uang, si nasabah menjual kendaraan motornya. Begitu selanjutnya dilakukan oleh teman-teman saya hingga akhirnya si nasabah kehilangan aset motor, mobil 2 unit dan sebuah truk. Setiap hari harus menghadapi nasabah tersebut membuat hati saya tergores. Dengan kondisi istri sakit parah, tanggungan biaya sekolah dan biaya hidup, dituntut harus menyelesaikan permasalahan kredit di perusahaan saya. Saya merasa ikut merasakan sakitnya, sehingga saya kehilangan keprofesionalan saya dan kembali melakukan kesalahan. Kesalahan-kesalahan saya yang saya maksudkan dari atas adalah, saya menutupi angsuran nasabah-nasabah dengan perjanjian nantinya si nasabah mengembalikan jika sudah memiliki uang. Ternyata tidak semudah itu, banyak nasabah yang tidak mau menepati janjinya untuk mengembalikan uang saya. Hal itu membuat ekonomi keluarga saya berantakan dan membuat saya menghalalkan segala cara untuk menutup lobang-lobang yang telah saya gunakan untuk menutupi angsuran nasabah tersebut. Nominal angsuran nasabah saya tidaklah kecil, di antara 5 juta - 12 juta perbulan/orang. Selain menghalalkan segala cara, sayapun harus mengambil kredit uang ke sana sini dan ada juga yang meminjam ke teman. Hingga pada akhirnya saya sudah merasa muak, saya memutuskan untuk mencari cara untuk keluar. Ya, saya mengambil cara yang ekstrim untuk keluar dari perusahaan tersebut.
Setelah keluar,saya mencoba untuk berwirausaha bersama istri, bahu membahu untuk melunasi hutang-hutang yang ada di luar. Berusaha untuk memperbaiki hubungan saya dengan Tuhan, memperbaiki ibadah dan memperbanyak ilmu tentang agama. Namun ternyata semua itu tidaklah meninggalkan dosa lama saya. Tepatnya kemarin, tanggal 28 Februari 2017, sebuah permata paling berharga saya harus tergores. Ya, putri pertama saya mengalami sakit dengan diagnosa yang sungguh menyayat hati. Disitulah saya benar-benar terbuka hatinya, jika semua ini adalah dosa saya. Putri saya yang tidak tahu menahu tentang perbuatan saya, harus menanggung akibatnya. Di saat seperti ini, saya kembali diuji. Saya mendapatkan tawaran dari seorang teman untuk mengisi sebuah jabatan di bank milik negara, tidak tanggung-tanggung, posisi manager ditawarkan kepada saya. Saya merasa gundah, di satu sisi saya harus memiliki penghasilan tetap untuk menghidupi keluarga saya, namun di sisi lain saya sudah tidak ingin memberikan buliran dosa untuk anak istri saya. Dengan ikhlas, akhirnya saya menolak tawaran tersebut dan kembali berikhtiar dengan jalan yang lain. Perlahan saya berusaha melunasi hutang-hutang saya, entah itu uang dari usaha istri maupun pinjam kepada orang tua. Yang jelas, prioritas utama saya adalah saya harus keluar dari lingkaran riba. Semua aset saya jual, mulai dari motor, alat elektronik dll. Saya prioritaskan hutang di perbankan bukan berarti saya tidak memperdulikan hutang saya kepada teman, tetapi saya berpikiran, paling tidak hutang yang berkaitan dengan teman tidak memiliki kaitan dengan riba dan yang pasti saya wajib mengembalikan. Saya sampaikan kepada sahabat-sahabat saya mengenai kondisi saya, ada beberapa yang dapat memahami, adapula yang bersikukuh agar saya segera melunasi.
Alhamdulillah, entah rejeki dari mana, secara perhitungan matematika sayapun tidak masuk di akal, namun hutang-hutang saya mulai menipis. Saya tidak peduli dengan pandangan orang jika saya tidak memiliki aset dll, yang pasti, saya dan istri sepakat jika kami harus kembali ke titik nol. Ya, kami harus kembali ke titik nol. Kami bersyukur Tuhan benar-benar masih peduli dengan kami, masih berkenan untuk membersihkan darah kami dari uang riba. Saya selalu berusaha berkhusnudzon kepada-Nya, jika ini adalah cara mengangkat kami dari kubangan lumpur riba, mengangkat derajat kami di hadapan-Nya, menghapuskan dosa-dosa kami terdahulu. Saya menyatakan jika saya melepaskan diri dari segala bentuk riba, apapun itu. Kebanggaan sebagai karyawan perbankan, dengan seragam berdasi, gaji tinggi, bonus besar dan insentif selangit, saya tinggalkan. Sungguh sangat berat untuk meninggalkan semua hal tersebut, sangat berat hukuman yang harus kami hadapi, namun kami berkeyakinan, untuk lebih dekat kepada-Nya, mendapatkan cinta-Nya memanglah tidak mudah.
Sekarang saya fokus untuk kembali ke dalam dunia pendidikan dan membantu saudara-saudara yang mengalami permasalahan dengan yang berkaitan dengan pihak perbankan. Namun tentu dengan satu syarat, untuk tidak kembali ke dalam kubangan lumpur riba tersebut. Alhamdulillah, salah satu bekas nasabah saya telah selesai berurusan dengan pihak perbankan. Aset jaminan berupa tanah dan rumah tidak jadi dilelang dan hutangpun selesai. Semoga cerita saya dapat menjadi pelajaran dan pengalaman penting untuk saudara-saudara yang lain. Jika sudah PASTI Alloh akan MENGHANCURKAN RIBA dan menumbuhkan SODAQOH, karena saya sudah merasakan semua hal tersebut dan saya tidak mau menjadi musuh-Nya karena secara tersurat, Dia telah menyatakan perang terhadap pelaku riba.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Sabtu, 24 Oktober 2009

Azab Bagi Indonesia Dalam Surat Al-Kahfi

Berbagai cobaan seperti bencana alam, kemiskinan, kerusuhan, ketidaknyamanan dll yang melanda bangsa Indonesia adalah semata-mata karena perbuatan mereka sendiri. Mereka yang terpukau akan dunia. Mereka yang tak pernah mengindahkan akan peringatan Alloh SWT sebelum mereka benar-benar mebuat murka Sang Rabb. Telah tersurat dan tersirat dalam Al-Qur’an akan peringatan-peringatan itu, namun manusia selalu mengingkarinya dan mengacuhkannya. Berikut adalah sedikit renungan bagi orang-orang yang tak mengindahkan larangan-Nya di dalam Surat Al-Kahfi :


Ayat 54
Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al-Qur’an ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.
Ayat 55
Dan tidak ada sesuatupun yang menghalangi manusia dari beriman, ketika petunjuk telah datang kepada mereka, dan dari memohon ampun kepada Tuhannya, kecuali (keinginan menanti) datangnya hukum (Alloh yang telah berlalu pada) umat-umat yang dahulu atau datangnya azab atas mereka dengan nyata.
Ayat 56
Dan tidaklah kami mengutus rasul-rasul hanyalah sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan; tetapi orang-orang yang kafir membantah dengan ynagg batil agar dengan demikian mereka dapat melenyapkan yang hak, dan mereka mengganggap ayat-ayat Kami dan peringatan-peringatan terhadap mereka sebagai olok-olokan.
Ayat 57
Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya lalu dia berpaling dari padanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.
Ayat 58
Dan Tuhanmulah Yang Maha Pengampun, lagi mempunyai rahmat. Jika Dia mengazab mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan azab bagi mereka. Tetapi bagi mereka ada waktu yang tertentu (untuk mendapat azab) yang mereka sekali-kali tidak akan menemukan tempat berlindung dari padanya.
Ayat 59
Dan (penduduk) negeri telah Kami binasakan ketika mereka berbuat zalim, dan telah Kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka.
Demikian adalah yang saya lihat dari keadaan bangsa Indonesia menurut pandangan saya dari ayat-ayat di atas. Terlalu banyak kemunafikan, kebusukan dan kebiadaban yang terlalu banyak dilakukan orang-orang yang berpijak di bumi tercinta kita, Indonesia. Banyak sekali orang yang berebut menjadi pemimpin bukan untuk memberikan kebaikan bagi rakyatnya, melainkan untuk mengambil keuntungan duniawi bagi diri mereka sendiri. Banyak sekali orang berlomba untuk menjadi pintar lantas mengamalkan kebajikan di dunia ini, namun malah membodohi orang yang lemah dan tak mampu. Banyak orang yang mampu dalam urusan agama dan melakukan syiar daripadanya hanya semata-mata demi ketenaran dan gelimang dunia, bukan semata-mata memberikan petunjuk dan teladan yang mulia bagi orang yang belum mengetahuinya. Banyak orang yang kuat lantas melindungi orang lain yang lemah, namun lebih menindas mereka dengan penuh keji. Lihatlah setitik azab Alloh di Kota Padang dan Tasikmalaya. Hanya ketika azab itu telah datang, maka manusia akan berlomba untuk menyebut nama Tuhannya.

“aku tak sebaik yang kau kira…”
“dan aku tak seburuk yang kau sangka…”

“telah ku dapatkan sebuah cahaya dalam peluk dan kasih-Nya…”
“dan aku benar-benar yakin bahwa Dia teramat dekat dengan hamba-hamba-Nya…”

Belong’s to Tom’s…

Sebuah Harga Diri dan Perjuangan Seorang Penjual Koran

Maaf jika saya baru bisa posting dan menyalurkan kata-kata yang teruntai dalam kalimat. Banyak hal yang harus saya selesaikan terkait dengan masalah pribadi dan orang lain. Kali ini kembali saya akan bercerita. Ya, cerita tentang kehidupan, tentang orang lain, tentang orang-orang yang ada di sekitar saya.
Ketika saya selesai kuliah dan hendak pulang ke kos, saya menjumpai seorang penjual Koran di perempatan jalan.ya, di perempatan jalan Kompi Mako Brimob atau di perempatan Stadion Mandala Krida, Yogyakarta. Saya tidak hanya sekali menjumpai, namun hampir setiap hari saya menjumpai penjual koran jalanan tersebut. Ada satu hal yang membedakan penjual koran tersebut dengan yang lainnya. Dia memiliki kelainan fisik dan mental. Dia berjalan pincang sembari menawarkan koran yang dibawanya. Tanpa kata-kata karena bisu yang dideritanya.



Pada waktu itu, cuaca sangat panas dan menyengat kulit. Terasa sangat ketika lampu merah menyala. Penjual koranpun segera menawarkan dagangannya kepada saya. Karena rasa iba atas keadaan penjual tersebut, kemudian saya menyodorkan selembar uang kertas yang mungkin menurut saya cukup untuk makan dan minum sekali, sesuai dengan ukuran apa yang saya makan. Namun begitu mencengangkan. Penjual itu menolaknya dengan isyarat. Dia mengisyaratkan jika ia bukan pengemis dan tak membutuhkan belas kasihan. Penjual itu malah menyodorkan koran agar saya mau membeli, bukan memberikan uang secara cuma-cuma.
Mata saya begitu terpana dan merasa sangat pedih melihat hal itu. Hati saya teriris melihat apa yang telah dilakukan penjual koran yang pincang, bisu dan terkadang meneteskan air liur di bajunya. Saya hanya bisa diam sembari penjual itu menawarkan korannya kepada orang lain. Dalam hati saya berkata, semoga surga yang akan membalas perjuanganmu. Kaulah salah satu guru terbaik yang pernah saya temui. Bukan dari buku, dosen atau profesor-profesor yang selama ini menyalurkan ilmunya. Saya melihat sebuah harga diri yang begitu tinggi dan mulia, bahkan melebihi orang yang selalu rajin beribadah namun hatinya keruh akan duniawi. Keruh akan kebusukan-kebusukan demi kebahagiaan diri sendiri.
Kembali saya berkata dalam hati, betapa ia memiliki martabat dan harga diri yang begitu tinggi meskipun dengan kekurangan yang menderanya. Ia jadikan kekurangan itu bukan sebagai alasan untuk berlemah diri, namun untuk semakin maju menjalani hidup yang keras.
Namun saya tak kurang akal. Esoknya saya letakan selembar uang dengan jumlah yang sama di atas koran-koran yang dibungkus plastik yang tergeletak di pinggir jalan sebagai tanda penghormatan saya pada waktu kemarin ketika ia tengah menawarkan koran kepada pengguna jalan. Saya sengaja melakukannya karena ia pasti akan menolaknya ketika saya memberikannya lagi. Jadi saya harus melakukannya secara sembunyi-sembunyi agar ia mengira itu adalah uang hasil penjualan koran-korannya.

Itulah sedikit cerita dari saya. Mungkin dapat mengilhami dan menjadi pelajaran bagi orang lain. Betapa harga diri dan martabat begitu mahal dan tinggi, bahkan tak mampu diukur dengan materi sekalipun. Betapa perjuangan tak harus berhenti akibat sebuah kegagalan dan kekurangan. Jika anda ingin menyaksikan guru hidup saya tersebut, Insya Alloh dapat kalian jumpai di tempat-tempat yang saya tunjukan tersebut. Saya tak berkehendak sombong atau angkuh atas apa yang saya lakukan, namun saya hanya ingin berbagi akan pelajaran hidup kepada orang lain. Jika kalian belum tentu mulia dari orang yang kalian anggap hina. Jika kalian belum tentu lebih tinggi derajatnya dari orang yang kalian anggap rendah hidupnya.

(mungkin lain waktu saya akan mengambil gambar penjual koran tersebut agar kalian lebih percaya akan kenyataan yang ada).
(many thanks buat Kang Opik. Pikiran saya menjadi sangat terbuka setelah membaca karya Virginia. Pelajaran untuk menuju kesuksesan bukan hanya melalui bangku pendidikan secara formal, tapi lebih menuju kepada kehidupan yang sebenarnya. Ojo bosen-bosen aweh pitutur go aku Kang! Matur nuwun…)

“melihatmu bahagia adalah sebuah anugrah terindah yang ku miliki…”
“biarkan aku menerima dan menjalankan titah Sang Rabb melalui tangan-tangan Jibril…”
“karena sesungguhnya, Ialah Kekasih Sejati yang selalu ada…”
“seperti halnya dirimu…”

“aku tak sebaik yang kau kira…”
“dan aku tak seburuk yang kau sangka…”

Jumat, 09 Oktober 2009

Apakah Do'a Itu Telah Menggema?

Do'a, satu kata yang banyak didengar & dilantunkan oleh banyak orang. Namun tak banyak orang belum tentu mendapatkan jawaban dari do'a tersebut. Atau mungkin menurut saya, bukan mendapatkan, namun belum mampu membaca jawaban yang tersirat dari do'a tersebut.
Orang yang memiliki pengetahuan agama yang kuat, memiliki pakaian yang bagus serta wewangian yang harum semerbak belum tentu mampu mendapatkan dengan mudah dibandingkan dengan seorang pengemis jalanan yang dekil, kotor ataupun berbau tak sedap.


Pernah saya mendengar, seorang pejabat sekaligus baik agamanya berdo'a memohon sesuatu kepada Tuhannya. Ia meminta agar ia mendapatkan lebih banyak rizki. Setiap malam setiap waktu. Namun tak kunjung datang jawaban itu. Lalu suatu ketika ia melihat seorang pengemis yang sedang sholat dan memanjatkan sesuatu kepada Tuhannya dan setelah selesai, pejabat itu bertanya kepada pengemis tersebut. "Apakah yang kau panjatkan kepada Tuhanmu?" Si pengemispun menjawab, "Saya hanya meminta sedikit rizki dan berkah serta kesabaran bagiku. Dan alhamdulillah, Tuhan selalu memberikan jawaban itu padaku." Lalu pejabat itupun berkata, "Saya sudah meminta itu berulang kali,bahkan setiap waktu,namun tak kunjung datang jawaban dari permintaan itu. Padahal saya jauh lebih baik darimu. Pakaian saya lebih bagus, bersih dan wangi. Sayapun telah meminta langsung ketika saya sedang berhaji. Lantas kenapa belum juga terwujud?" Pengemispun kembali berkata, "Bukan emas permata yang menempel di tubuh yang menjanjikan terkabulnya, bukan wewangian sesemerbak bunga surga yang tercium dari tubuh, bukan pakaian yang mahal atau indah dan seberapa jauh ke tempat lain ia menjalankan ibadahnya. Namun ketulusan dan kerendahan dirilah yang utama. Jawaban itu tak harus nampak, namun halus tersirat. Saya meminta rizki, mungkin itu hadir dalam bentuk ketegaran jiwa dan raga. Saya meminta kesabaran, bukan berarti saya seketika menjadi orang yang sabar, namun Tuhan menghadirkan orang-orang yang mempu memberikan dan melatih kesabaran bagiku. Cobalah untuk tidak sombong dan angkuh dihadapan Tuhanmu,Insya Alloh permintaanmu akan terkabul."
Mendengar jawaban tersebut, pejabat itupun langsung memeluk seraya menangis dan mencium tangan pengemis. Dia berkata jika dia tak lebih baik dan lebih mulia dari orang-orang yang dianggap rendah olehnya.
Itu adalah sedikit contoh dari apa yang saya bicarakan. Ketika saya hendak berdo'a atau sholat, hanya satu yang ada dipikiran saya. Apakah makhluk yang hina seperti saya masih pantas untuk meminta? Namun hati saya kemudian berkata, Tuhanku adalah Dzat mulia dari yang paling mulia, Dzat penyayang dari segala maha penyayanng. Kiranya Dia pasti berkehendak menerima saya. Namun saya juga tak lupa untuk lebih mengutamakan penampilan saya. Untuk pergi dengan seorang wanita atau hendak bertemu pejabat saja harus berpakaian rapi, bersih dan sopan serta harum mewangi, mengapa untuk bertemu dan bersimpuh dihadapan Kekasih Sejati yang amat dicinta harus mengenakan penampilan ala kadarnya?


Posted by :
Sickman

"aku tak sebaik yang kau kira..."
"dan aku juga tak seburuk yang kau sangka..."

Kamis, 08 Oktober 2009

Apakah Neraka Adalah Imajinasi Manusia?

Berbicara tentang neraka, surga atau akherat, itu adalah hal yang menjadi urusan Tuhan, yang menguasai alam semesta ini. Dalam setiap agama, pastilah selalu ada penjelasan atau pemaparan tentang dua hal tersebut. Saya sebagai muslim, percaya jika neraka ataupun surga itu diciptakan oleh Tuhan.
Namun ada beberapa hal yang berkaitan tentang dua tempat itu yang menjadi pertanyaan bagi saya. Saya sedang tidak rasis ataupun melecehkan agama lain. Namun justru saya sedang belajar tentang kehidupan, entah itu berasal dari apapun. Selama itu bermanfaat dan berguna bagi saya dan orang lain, selama itulah saya tidak akan membedakan asal-usulnya. Semua manusia sama, hanya takdirlah yang membedakan ketika ia harus ditempatkan dimana.


Pernahkah kalian mendengar Lucifer? The Hell Angel yang menjadi penguasa kegelapan dan menguasai neraka? Father of devil, ayah dari para setan yang mencabut nyawa manusia ketika ajalnya tiba?
Saya melakukan postingan ini setelah saya membaca buku dan melihat movienya langsung, bahkan movie ini masih saya simpan. Sepengetahuan saya, dilihat dan ditelaah dari segi agama apapun, setiap malaikat yang menjadi Tangan Tuhannya tidaklah memiliki anak ataupun diperanakan. Namun dibuku atau movie yang saya lihat, disini, Lucifer, malaikat neraka memiliki putra yang Bernama Mammon.
Lalu mengapa saya mempertanyakan tentang neraka sebagai imajinasi manusia?
Awalnya, Lucifer adalah malaikat penghuni surga, yang dititahkan untuk mengabdi kepada Tuhan. Namun karena suatu hal, Lucifer membinasakan salah satu malaikat yang ada di surga. Tuhanpun murka dan marah, lantas mengusir Lucifer dari Surga. Akibat pengusiran tersebut, Luciferpun merasa tak terima dan ingin melampiaskan kekesalannya itu. Dia turun ke bumi dan mengacaukan segala isinya. Mulai membuat keonaran dan kecemasan. Lucifer membuat ide penyiksaan di bumi seperti membakar manusia hidup-hidup, memotong lidah menggunakan besi panas, memasukan manusia ke dalam tungku kemudian merebusnya, menusukkan besi panas dari lubang anusnya hingga menembus ke kepala. Dari kenyataan tersebut, manusia beranggapan jika Lucifer identik dengan keberadaan api dan siksaan yang pedih. Lucifer yang memiliki sayap naga dan penuh dengan kekejaman. Tak hanya sampai disitu, ternyata Luciferpun mengirimkan tentaranya untuk membujuk manusia agar mau menjadi tentaranya dengan rayuan dan janji palsunya. Menjanjikan kekayaan yang berlimpah bagi manusia.
Dari kenyataan cerita tersebut, Lucifer kemudian dianggap sebagai penguasa neraka dan malaikat maut oleh manusia.
Nah,pertanyaan saya akhirnya bisa beralasan kan? Apakah sebenarnya neraka itu bagi sebagian orang hanya sebagai imajinasi atau khayalan belaka yang mereka ciptakan sendiri atau memang benar-benar mereka yakini sebagai ciptaan Tuhannya?


Referance :
Movie ( The History of Devil )
Book ( Biografi Setan )

Senin, 05 Oktober 2009

Sebagian Dari Tanda Kekuasaan-Nya

Seperti apa yang selalu saya katakan dan do’akan.
“ Kehendak-Mu adalah kehendakku dan kehendakku adalah kehendak-Mu. Sebenar-benar dan sesungguh-sungguhnya, Kaulah yang menguasai takdirku. Dan biarkanlah kehendak-Mu menjadi kehendakku atas apa yang terjadi padaku agar aku tak merasa berat hati. Sesungguhnya, akulah sang peminta dan Engkaulah Sang Pemberi”.
Gempa bumi yang melanda Kota Tasikmalaya terjadi pada pukul 15.04 WIB benar-benar menjadi cobaan bagi suadara kita yang jauh di sana. Telah tersirat dari kejadian tersebut atas firman-firman dan keagungan Alloh SWT. Lihatlah pada waktu terjadinya gempa bumi tersebut, merupakan pesan yang disampaikan bagi umat-umatNya. 15, menunjukan surat ke-15 dari Al-Qur’an yaitu Surat Al Hijr. Sedangkan 04 menunjukan ayat ke-4 dari surat tersebut yang berbunyi :
Wamaa ahlaknaa minqoryatin illaa walahaa kitabumma’luum {Dan Kami tiada membinasakan sesuatu negeripun, melainkan ada baginya ketentuan masa yang telah ditetapkan}.
Lalu untuk gempa bumi yang terjadi di Kota Padang, yang terjadi dua kali yaitu pada pukul 17.16 dan 17.18 WIB juga tersirat pesan dari kitab Alloh yang teramat sangat menunjukan kebesaran-Nya. 17 menunjukan surat ke-17 dalam Al-Qur’an yaitu Surat Al Israa’. Dan 16 dan 18 menunjukan ayat yang terdapat dalam surat tersebut yang berbunyi :
Al Israa’:16
Wa idzaa arodnaa annuhlika quryatan aamarnaa mutrofiihaa fafasaquufiiha fakhaqqo’alaihaalqoulu wadammarnaaha tadmiir {Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Alloh) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya}.

Al Israa’: 18
Mankaana yuriidul’ajilata’ajalnaalahufiiha maanatsauu limannuriiduu tsumma ja’alnaa lahuu jahannama yaslaahaa madzmuumaammadkhuur {Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir}.

Lalu untuk gempa yang terdapat di Jambi terjadi pada puku 08.52 WIB. Kita kembali telaah dari waktu yang ada. Kita lihat lihat surat ke-8, yaitu Surat An Anfaal. Kemudian kita baca dan resapi makna ayat ke-52 dari surat tersebut yang berbunyi :
Kadaabi alii fir’auna walladziina minqoblihim kafaruu biaayaatillahi fa akhodzahumullahuu bidzunuubihim innallahaa qowiyyun tsadidul’iqoob {(keadaan mereka) serupa dengan keadaan fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Alloh, maka Alloh menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Alloh Maha Kuat lagi amat keras siksaan-Nya}.

Semuanya telah tertulis indah di dalam kitab nan suci, Al-Qur’an. Namun tak banyak orang yang mampu membaca dan meresapi makna yang terkandung di dalamnya. Jikalau azab dan murka-Nya telah turun dan meluluhlantahkan muka bumi, barulah orang-orang beramai-ramai memuji dan menyebut nama-Nya. Merasa hina dan tak berarti apa-apa dihadapan-Nya.
Semoga ketabahan selalu menyertai jiwa-jiwa dan hati para saudaraku yang tengah mengalami bencana. Sesungguhnya Alloh Maha Penyayang, agar kita mampu memaknai cobaan tersebut dengan hati yang lapang.

“aku tak sebaik yang kau kira…”
“namun aku juga tak seburuk yang kau sangka…”

Sabtu, 20 Juni 2009

Kebo Bandel Bicara Tentang Fatimatuz Zahra

Kemarin-kemarin bebek tanya tentang Fatimatuz Zahra. Tapi berhubung waktu itu aku lagi masang stiker duck dihelmnya,ya jelas ga bisa konsen buat cerita.Jadi aku bikin aja dinotes. Jadi bisa dibaca sama orang lain juga.

Bernama Siti Fatimah atau Fatimah Az Zahra atau Fatimatuz Zahra yang artinya bunga yang mekar semerbak. Beliau adalah putri kesayangan Nabi.Sebagai cahaya ketika Nabi ditinggal oleh istri tercintanya.Beliau adalah wanita yang berakhlak mulia,pandai bersyukur,memiliki ibadah yang baik,santun,rendah hati,berjiwa besar,pemaaf serta menjaga dalam ucapannya agar tidak menyakiti orang lain.Beliau adalah bunga semerbak,yang menyebarkan kebaikan dan kemuliaan bagi orang yang lain. Yang menyebarkan kedamaian dan kebahagiaan bagi orang lain. Rasa tulus dan cinta kasihnya bagi orang yang lain.

Beliaulah buah cinta dari Sang Nabi. Ketika ayahnya turun dari medan perang,beliaulah yang membersihkan darah dari luka ayahnya. Ketika kaum kafir menghujani ayahnya dengan kotoran binatang,beliaulah yang membersihkan tubuh sang ayah. Membasuhnya dengan penuh kasih sayang.
Beliau adalah seorang wanita yang sabar dan mudah memberi. Pada suatu ketika,beliau melaksanakan ibadah puasa. Tiba saatnya berbuka,tiba-tiba datang seorang peminta yang kelaparan. Maka dengan mudah dan ikhlasnya beliau memberikan makanan itu kepada peminta dan menggantinya dengan air putih. Dan dihari berikutnya, hal samapun terjadi hingga hari berikutnya. Selama 3 hari beliau berpuasa,tak sedikitpun makanan yang masuk dalam tubuh beliau. Hingga pada saatnya,tubuh beliau menjadi lemah dan tak berdaya. Mendengar hal itu,Nabi menjadi sangat bersedih dan segera membawakan sepotong roti bagi putri tercintanya.
Itu merupakan contoh bagaimana beliau bersabar,ikhlas dan tegar dalam setiap kehidupannya.

Gimana? Bebek uda rada jelas kan?
Buat reader,mungkin bisa ngasih sedikit informasi.

"Ketika aku melihatnya,maka aku yakin,itulah setitik cahayanya"

Ayat-Ayat Tentang Riba

Assalamu'alaikum.. Alladzina yaa kuluunarribaa laa yaquumuuna illaa kamaa yaquumulladzii yatakhobbathuhusyayaithoonu minalmassi, dzaal...